Rizki Amelia Pradipta, begini namanya. Terdegradasi ia dari
squad WS pelatnas pada akhir tahun 2010. Tidak berprestasi, begini label pelatnas.
Karir ia di bulutangkis tamat sudah, barangkali saja ini ucapan hampir seluruh
pencinta bulutangkis tanah air.
Hal mengejutkan terjadi, ia tidak patah semangat, terus menaiki
rute bulutangkis dan bermain di sektor ganda putri bersama Pia.
Dengan prestasi terbaik duduk di rangking 6 dunia. Sempat mengalahkan
salah satu WD terbaik China, Ma Jin/ Tang JinHua,21 19 18 21 24 22 di Singapore
Open 2013. Tentulah ini prestasi-prestasi ini tidak bisa diabaikan dengan
status Rizki sebagai ‘anak buangan PBSI’.
Lalu kita bertanya, ada apa dengan pelatnas?
Pikir dan duga saya pelatnas tidak menangkap potensi besar
Rizki di WD. Ketika dianggap tidak menghasilkan prestasi besar di WS, ia langsung
‘dibuangkah’? Adakah upaya pelatnas mengalihkan Rizki untuk mencoba peruntungan
nasib di WD atau XD? Lantas seharusnya, siapa yang harus mencari bakat lain
itu? Pelatih? Atau Kabid Binpres kah?
Akan banyak kita temukan pemain-pemain yang dikategorikan
mentok di pelatnas. Baiknya memang, ini harus dicarikan solusi oleh pelatnas.
Saya tiba-tiba berpikir, alangkah bijaknya jika pemain yang
sudah dikategorikan mentok di single dan kemungkinan akan didegradasi, berilah kesempatan
mereka beralih ke WD, MD atau XD selama dua atau tiga bulan menjelang waktu
degradasi. Tentulah pelatih sudah tahu pemain-pemainnya yang akan didegradasi
bukan?
Silahkan pemain-pemain
itu mencoba merubah nasib dengan mengikuti beberapa turnamen. Jika ada pemain
yang dinilai berbakat di sektor ganda, tidak salahnya mereka dialihkan untuk banting
setir ke ganda. Jika masih dinilai tetap tidak memiliki bakat memikat sektor
ganda, artinya, degradasi adalah jalanan paling bijak untuk pemain.
(sumber foto:badmintonindonesia.org)





