• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • RSS Feed

Selasa, 12 Agustus 2014





Rizki Amelia Pradipta, begini namanya. Terdegradasi ia dari squad WS pelatnas pada akhir tahun 2010. Tidak berprestasi, begini label pelatnas. Karir ia di bulutangkis tamat sudah, barangkali saja ini ucapan hampir seluruh pencinta bulutangkis tanah air. 

Hal mengejutkan terjadi, ia tidak patah semangat, terus menaiki rute bulutangkis dan bermain di sektor ganda putri bersama Pia.

Dengan prestasi terbaik duduk di rangking 6 dunia. Sempat mengalahkan salah satu WD terbaik China, Ma Jin/ Tang JinHua,21 19 18 21 24 22 di Singapore Open 2013. Tentulah ini prestasi-prestasi ini tidak bisa diabaikan dengan status Rizki sebagai ‘anak buangan PBSI’.

Lalu kita bertanya, ada apa dengan pelatnas?

Pikir dan duga saya pelatnas tidak menangkap potensi besar Rizki di WD. Ketika dianggap tidak menghasilkan prestasi besar di WS, ia langsung ‘dibuangkah’? Adakah upaya pelatnas mengalihkan Rizki untuk mencoba peruntungan nasib di WD atau XD? Lantas seharusnya, siapa yang harus mencari bakat lain itu? Pelatih? Atau Kabid Binpres kah?

Akan banyak kita temukan pemain-pemain yang dikategorikan mentok di pelatnas. Baiknya memang, ini harus dicarikan solusi oleh pelatnas.

Saya tiba-tiba berpikir, alangkah bijaknya jika pemain yang sudah dikategorikan mentok di single dan kemungkinan akan didegradasi, berilah kesempatan mereka beralih ke WD, MD atau XD selama dua atau tiga bulan menjelang waktu degradasi. Tentulah pelatih sudah tahu pemain-pemainnya yang akan didegradasi bukan?

 Silahkan pemain-pemain itu mencoba merubah nasib dengan mengikuti beberapa turnamen. Jika ada pemain yang dinilai berbakat di sektor ganda, tidak salahnya mereka dialihkan untuk banting setir ke ganda. Jika masih dinilai tetap tidak memiliki bakat memikat sektor ganda, artinya, degradasi adalah jalanan paling bijak untuk pemain.

(sumber foto:badmintonindonesia.org)

Senin, 11 Agustus 2014



Entahlah, saya pikir menjadi penting memanggil  Vita Marissa dan Pia Rizki kembali ke Pelatnas. Vita Pia, harapannya bisa mendampingi pemain muda pelatnas. Alfian, Edi, Hafiz Faisal di ganda campuran. Atawa Anggia, Rosita, Suci, Della, Melvira di ganda putri. Sepertinya potensi pemain muda-muda tersebut akan lebih cepat berkembang pesat.


Krisis pemain senior atau pembimbing putri di pelatnas tengah mendera. Selain Butet, Gresyia siapa lagi yang kita titahkan untuk membimbing pemain muda? Debby, Richie jika dikalkulasikan dengan usia, dua pemain ini masuklah senior. Tapi pelatih hanya memokuskan mereka bermain di ganda campuran. Debby tahun ini sudah dapat amanah membimbing pemain muda, Praveen, namun memerlukan pembuktian dengan prestasi. Dan Richie dengan sesama pemain senior, Riky Widianto, dengan prestasi bisa dilabelkan biasa saja.  


Vita-Pia kehadiran mereka akan penting sekali untuk pemain muda pelatnas. Bagaimana mampunya pelatih meracik pasangan-pasangan keren, inilah sebuah tantangan. Vita - Pia sudah ada buktinya mumpuni membimbing pemain-pemain muda di luar pelatnas. Vita mantap dengan Praveen, Nadya Melati dan Lala. Pia berhasil menaikkan pamor Rizki. Kita gantungkan harapan,kombinasi senior-junior ini, akan sukses berhasil seperti contohnya Hendra Ahsan, Butet Owi. 


Untuk Rizki, pemanggilannya patut dicoba. Ia bisa dicoba dipasangkan dengan pemain-pemain junior seperti Masita, Ni Ketut untuk mempercepat proses kematangan permainan pemain junior pelatnas.



Apa pelatnas sudah memanggil mereka?


Vita dengan kabar beredar sudah dipanggil Richard Mainaky. Menjadi asisten dan pendamping pemain muda. Pia Rizki dari awal tahun sudah dipanggil. Namun pemanggilan tempo itu belum berbuah hasil. Saya pikir demi proses regenerasi permainan junior yang lebih cepat, panggil kembali mereka. Apapun caranya.
 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff